Sajian pembelajaran & manajemen 

magnify
Home Umum Kekuatan Emosi
formats

Kekuatan Emosi

Published on September 28, 2012 in Umum

“ Semakin berkembang pesat diri kita, semakin tinggi energi emosi yang dibuktikan”

Kita memerlukan emosi untuk memicu kreativitas dan inovasi. Karena orang yang punya emosi, maka ia bisa membuat nyata nilai etika yang ia yakini. Ia terdorong untuk lebih cepat mencerna situasi dalam kehidupan, mengasah nalar menjadi lebih peka lagi. Maka, dunia menjadi nyata. Ia bisa membakar perasaan, tentu harus dikendalikan ke arah yang positif. Dan selanjutnya akan merangsang langkah berani. Karena ada ‘Emosi’, maka respon terhadap realitas menjadi hidup.

Menurut Josh Hammond, emosi adalah sesuatu yang punya makna penting bagi organisasi. Emosi adalah pengorganisasi yang hebat dalam bidang pikiran dan perbuatan. Meskipun demikian, emosi tidak dapat dipisahkan dari penalaran dan rasionalitas. Dan menurut Robert K. Cooper, pada umumnya emosi lebih jujur daripada pikiran atau nalar. Emosi juga memiliki kedalaman dan kekuatan, dalam bahasa latin, misalnya, emosi dikatakan sebagai motus anima, yang artinya jiwa yang menggerakkan kita. Jadi emosi itu sumber energi.

Bagi pelaku organisasi, setiap hari menghadapi tantangan. Oleh karena itu, kecerdasan emosi perlu diasah. Kita perlu merawat emosi agar ia tidak menjadi liar. Kita tata emosi, agar menjadi kekuatan sekaligus sumber energi. Anda akan memiliki keberanian berkompetisi. Dzikir dalam hati akan membuat sesuatu terjadi. Jika kita mampu memberdayakan otak kanan, maka ada kecenderungan akan mampu menyelesaikan setiap masalah dalam hidup.

Bagi para pelaku organisasi perlu mengasah kecerdasan emosi, karena kesuksesan dalam melaksanakan tugas, sangat ditentukan oleh kepercayaan diri (self efficacy), kemampuan mengontrol emosi, dan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Banyak pakar emotional intelligence berpendapat bahwa sukses dalam karir lebih ditentukan oleh kecerdasan emosional dibandingkan kecerdasan intelektual. Apa sajakah ciri-ciri yang menandai apakah seseorang memiliki kecerdasan emosional yang baik atau tidak? Berikut ciri-ciri tersebut:

1. Mentalitas berkelimpahan (abundance mentality). Sifat ini dimiliki oleh orang yang suka membagi apa yang dimiliki dengan orang lain. Orang seperti ini akan merasa semakin kaya dengan memberikan apa yang dimilikinya kepada orang lain. Lawan dari sifat ini adalah mentalitas yang pelit (scarcity mentality), bahwa ia selalu ketakutan, dan merasa tidak akan mendapatkan sesuatu bila orang lain telah mendapatkannya.
2. Pikiran positif pada orang lain. Orang yang memiliki sifat ini, akan melihat orang lain sebagai bagian dari kebahagiaan hidupnya. Dia selalu melihat sisi positif hal-hal yang dilakukan dan dipikirkan orang lain. Menurut Covey (1990) diistilahkan, seek first to understand than to be understood (berusaha mengerti orang lain terlebih dahulu baru meminta dirinya dimengerti).
3. Kemampuan berempati. Sifat ini dimiliki oleh orang yang bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Kepekaan perasaan yang dimilikinya membuat dia mudah merasakan kesusahan dan kegembiraan orang lain. Sedangkan orang yang tidak memiliki kemampuan berempati akan kesulitan berhubungan baik dengan orang lain, karena perasaannya tumpul dalam memahami kebutuhan orang lain.
4. Komunikasi Transformasional. Sifat ini dimiliki oleh orang yang selalu memilih kata-kata yang enak didengar telinga dalam berbicara pada orang lain, walaupun tengah berbeda pendapat dengan orang lain.
5. Berorientasi sama-sama puas (win-win). Sifat ini dimiliki oleh orang yang selalu ingin membuat gembira bersama-sama dengan orang lain dalam berinteraksi. Dia memiliki rasa respek pada orang lain.
6. Sifat melayani (serving attitude). Sifat ini dimiliki oleh orang yang sangat senang melihat orang lain senang, dan sangat susah melihat orang lain susah. Lawan dari sifat ini adalah egois, yang hanya mementingkan diri sendiri. Dan orang yang punya sifat melayani, kalau jadi pimpinan juga akan melayani bukan minta dilayani.
7. Apresiatif. Suka memberikan apresiasi pada apa yang dilakukan orang lain.

Artikel Terkait

  • No Related Post
 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 

Parse error: syntax error, unexpected T_ENDIF in /home/mediastr/public_html/wp-content/themes/ifeature/footer.php on line 61